Jumat, 28 April 2017

Myanmar, Land of Gold (Solo Trip)

(Super late late post)
(Agak2 Throwback)

Berdasarkan beberapa permintaan, kali ini saya akan membuat sedikit catatan perjalanan saya ke Myanmar pertengahan Mei tahun 2012 lalu.

Untuk trip ini, harusnya saya pergi bersama tiga orang teman lainnya. Tapi berhubung satu dan lain hal, akhirnya saya yang pergi sendirian.

16 Mei 2012

Untuk penerbangan ke Yangon ini, kebanyakan harus transit dulu di Kuala Lumpur. So, saya mengambil penerbangan sehari sebelumnya (tanggal 16), dan menginap di daerah Chinatown.

17 Mei 2012
Penerbangan KL-Yangon hanya ada 1x sehari dari Kuala Lumpur, yaitu pukul 17.10 Penerbangan memakan waktu sekitar 2 jam. Sampai disana, sekitar pukul 18 kurang. FYI, waktu Jakarta setengah jam lebih cepat dari waktu Yangon.
Sampai disana, ketemu teman dari CS yang sudah berbaik hati memesankan tiket bus untuk malam hari. Untuk bus perjalanan antar kota ini, ada baiknya dibooking dari hari2 sebelumnya, or at least pagi hari ketika keberangkatan. Sulit untuk mendapatkan bangku ketika high season.

Ketika makan malam di sekitar Airport, saya agak kaget karena banyak restoran yang tidak menyuguhkan minuman panas ketika malam hari. Dan di restoran itu, tarif untuk wifi 5000 Ks/6 hour

Harga makanan dan minumannya tidak jauh berbeda dengan di jakarta. Hanya saja agak sulit untuk mendapati restoran atau Hotel dengan fasilitas wi-fi.
Setelah selesai makan malam, saya naik taxi ke terminal Bus. Setelah tawar menawar, harga yang disepakati 4000Ks (disana tidak pakai sistem argo).

Perjalanan sekitar 1 jam. Di tengah perjalanan, saya meminta untuk sejenak berhenti untuk menukar uang. Menukar uang bisa di money changer airport, tapi harga yang dipatok di blackmarket lebih baik. Saya menukar dollar dengan rate 1 dollar=880 Ks . Itru patokan untuk menukar tiap $100. Dengan nominal yang lebih kecil, rate yang diberikan lebih kecil pula. Misalnya kita menukar $70, rate yang diberikan=850Ks

Di terminal bus disediakan tempat untuk menunggu, sambil nonton TV. Acara TV Myanmar rupanya tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Ada semacam OVJ pada malam hari, dan ada sinetronnya juga. ngakaks
FYI, di Myanmar jarang ada yang bisa Bahasa Inggris. Tapi biasanya petugas ticket, calo-calo, beberapa supir taxi, dan petugas hotel mengerti Bahasa Inggris.

Quote:
Harga tiket bus AC Yangon-Mandalay : 10.400 Ks (AC)
Harga tiket bus Mandalay- Bagan : 7000 Ks (nonAC)
Harga tiket bus Bagan-Yangon : 18.000 Ks (AC)
Untuk lebih jelasnya bisa liat di web ini : http://www.yangonow.com/eng/transportation/highway_bus/index.html#Anchor-30803


Oh ya, untuk yangon-Mandalay, atau Bagan-Yangon, semua bis istirahat di rest area pada tengah malam atau malam hari, sekitar 30 menit. Dan semua penumpang diharuskan turun, ga peduli lagi tidur juga.
Perjalanan naik Bus Yangon-Mandalay memakan waktu 8-10 jam, including rest.

18 Mei 2012

Saya tiba di Mandalay pagi hari, sekitar pukul 6. Ketika sampai disana, langsung diserbu calo-calo. Entah itu calo hotel, bis, atau angkutan. Ada baiknya begitu sampai terminal bus ini, langsung masuk ke dalam terminal untuk booking bus untuk next trip. Saya booking bus untuk Bagan, pada malah harinya.

Dari terminal ini, ke pusat kota sekitar 20-30 menit jika naik motor/taxi. Saya naik ojek, dengan tarif 2500Ks. Ada banyak pilihan transportasi untuk mengitari kota Mandalay. Bisa naik ojek motor, becak, taxi, atau bisa sewa sepeda($1.5). Saya menyewa becak untuk seharian, dengan tarif 5000Ks.
Quote:
Tempat2 yang bisa dikunjungi :
- Shwenandaw Kyaung
- Mahamuni Pagoda
- Kuthodaw Paya
- Mandalay Hill
- Mandalay Palace
- Kuthodaw Pagoda
- Sanda Muni Paya
- Dst


Spoiler for
[FR] A Little Trip to Northern SouthEast Asia-Myanmar 17-20 Mei 2012

Spoiler for
[FR] A Little Trip to Northern SouthEast Asia-Myanmar 17-20 Mei 2012

Spoiler for
[FR] A Little Trip to Northern SouthEast Asia-Myanmar 17-20 Mei 2012



Di Mandalay ini, pemerintah Myanmar memberlakukan tarif $10 untuk 1 hari, multiple access ke beberapa tempat-tempatnya(ada lagi tambahan $5 di beberapa tempat). Kalo yang budgetnya sedikit, menurut saya sih tidak usah bayar, karena banyak juga tempat yang gratis, dan tempat yang “berbayar” tersebut bisa difoto-foto dari luar D. Tanyalah pada tour guide atau supir angkutan anda, mana tempat yang berbayar, dan biayanya.

Usai day trip, saya memilih menunggu di warnet hotel, yang tarifnya 500Ks per jam. Ketika saya disana, ada customer hotel yang complain, kenapa dia sudah bayar kamar AC, tapi Acnya tidak bisa digunakan. Jadi disana, listrik sering sekali mati, terutama malam-malam. Jadi kalau pesan kamar, tidak usah yang AC, lebih baik yang fan ber-window saja.

Sore tiba, saya kembali ke terminal bus. Saya menitipkan tas di tempat saya memesan tiket. Dan lagi-lagi mati lampu. Keadaan terminal disana lebih buruk dari terminal-terminal di Jakarta yang saya tahu. Suram, dan bau pesing dimana-mana.

Di Myanmar ini, saya pikir tempat teraman yang pernah saya datangi. Menaruh tas di tempat terbuka(tidak disarankan), meskipun di terminal sekalipun, tidak ada yang berniat menyentuh . Dan meskipun banyak orang yang kurang mampu, emas bertaburan dimana-mana, tapi tidak ada yang sudi mencuri.

Tadinya saya senang karena dapat bus Mandalay-Bagan dengan harga yang cukup murah. Tapi ketika masuk bus, ternyata penumpang dibarengi dengan tumpukan karung-karung di lantainya. Tapi toh yang penting saya masih bisa tidur, dan sampai di Bagan keesokan paginya.

19 Mei 2012

Akhirnya sampai juga di Bagan! Saya sampai di Bagan ketika masih gelap. Jadi mau tidak mau harus menunggu dulu, paling tidak sampai subuh. Keadaan di terminal Bagan cukup lebih baik. Saya menunggu di warung teh yang cukup besar, sambil minum chinese tea dan makan cakwe. Sayangnya calo-calo itu tetap saja mengikuti kemana-mana, bahkan ikut-ikutan minum teh di satu meja.

Sudah hampir subuh, saya pikir. Setelah tanya-tanya, saya pun berjalan menuju terminal Bus lain yang khusus menjual trip ke Yangon; lokasinya agak lebih ke tengah kota. Ketika mulai berjalan, si calo yang tadi kekeuh, menawari saya naik becak, hanya 250Ks ke terminal. Yasudah lah saya turuti, karena murah juga. Terminal Bus to Yangon ternyata tidak jauh juga, kalau ditempuh jalan kaki mungkin sekitar 15-20 menit. Harga Bus ke Yangon rata-rata sama, yaitu 18.000 Ks, dan semuanya sudah hampir full meskipun saya datang subuh-subuh.

Tidak jauh disana, ada pangkalan delman. Dari awal memang saya sudah rencana naik delman; rasanya kaya balik ke jaman kerajaan saja, pergi ke kuil dan istana dengan kereta kuda. Haha. Setelah tawar menawar yang cukup sengit, harga yang disepakati 10000Ks. Ohya di Bagan ini juga diharuskan membayar $10 yang bisa berlaku selama 3 hari. Dan karena Cuma satu hari, saya hanya pergi ke Old Bagan.

Perjalanan menuju kompleks Old Bagan benar-benar membuat saya merasa seperti kembali ke jaman kerajaan Buddha-Hindu dulu, dan kadang terasa berada di city of Qarth. Sepanjang jalan yang terlihat hanya kuil-kuil, tidak terlihat gedung tinggi ataupun rumah model jaman sekarang. Saya datang pada bulan Mei, yang notabene adalah dry and low season, jadinya tidak begitu banyak turis yang datang, dan harga-harga lebih murah.
Spoiler for
[FR] A Little Trip to Northern SouthEast Asia-Myanmar 17-20 Mei 2012

Spoiler for
[FR] A Little Trip to Northern SouthEast Asia-Myanmar 17-20 Mei 2012


Kebanyakan kuil di Bagan bertingkat, tetapi tidak semuanya boleh dinaiki. Yang boleh dinaiki kebanyakan adalah kuil-terbesarnya saja; dan view dari atas kuil : luar biasa. Ada ribuan pagoda dengan berbagai bentuk dan rupa yang terpapar disini. Membuat saya bertanya-tanya, siapa yang membangun ribuan pagoda ini. kisss

Spoiler for
[FR] A Little Trip to Northern SouthEast Asia-Myanmar 17-20 Mei 2012


Spoiler for
[FR] A Little Trip to Northern SouthEast Asia-Myanmar 17-20 Mei 2012



Setelah keliling Bagan seharian, saya kembali ke terminal bus untuk berangkat lagi ke Yangon. Bus berangkat jam 6 sore.

20 Mei 2012

Bus yang saya naiki cukup nyaman, ada AC dan bantal. Tapi terlalu dingin! Dan bis ini tidak menyediakan fasilitas selimut. Di samping saya juga duduk laki-laki yang cukup besar badannya, yang meskipun sudah cukup baik untuk menggeser-geser badannya, dan bolak-balik mengatur AC saya, membuat saya aga mati gaya . Alhasil saya tidak bisa tidur nyenyak sepanjang perjalanan.

bersambung, n foto menyusul


Sampai di Yangon kira-kira pukul 3 dini hari. Lebih awal dari yang saya perkirakan! Rencana awal, sampai Yangon sekitar pukul 5 pagi, istirahat dan ngopi-ngopi sebentar, kemudian sewa kendaraan seharian seperti biasanya, dan capcus ke Airport untuk kembali ke KL. Tapi ini masih jam 3 kurang
Saya berjalan ke arah (yang menurut saya) arah keluar terminal untuk ke tengah kota. Ada beberapa calo dan supir taxi yang bolak balik memanggil, tapi saya cuekin. Karena toh saya juga belum tahu mau kemana. Jalanan memang sepi dan gelap karena masih jam 3 pagi. Tapi warung dan restoran semua penuh dan ramai (baca:berisik). Sepintas saya lihat TV yang mereka tonton, ada tayangan replay Drogba yang baru ngegolin. Saya baru ingat kalau hari itu final Liga Champion. Akhirnya saya ikut nimbrung di restoran terdekat sambil minum teh, dan buka-buka Lonely Planet. Lucunya meskipun disana full, tapi jarang ada yang memesan makanan atau minuman. Kebanyakan hanya numpang nonton.

Semakin lama saya duduk, semakin terasa ngantuknya. Karena duit menipis, saya tetap berniat untuk jalan kaki ke arah kota sampai sore (?) Saya coba buka peta dan tanya orang sekitar. Tapi selain kebanyakan tidak mengerti bahasa Inggris, mereka juga tidak bisa menunjukkan tempat dimana kami berada saat itu. Akhirnya saya naik becak, dan minta ke “Sule Paya”. Saya tunjukan uang 500 Ks, dia hanya iya iya saja. Tapi setelah 5 menit saya malah diturunkan di tengah jalan, di tengah gerombolan anak muda(atau preman?) ngumpul. Tampaknya ongkosnya tidak cukup. Mereka bolak balik tanya beberapa hal; yang meskipun mungkin mereka niatnya membantu, tapi agak serem juga pagi-buta begitu, gelap, di tengah orang-orang asing yang belum saya kenal. Saya siaga meraba kantong untuk mengeluarkan “senjata” in case something ugly happened. Menurut mereka, tengah kota (yang patokannya Sule Paya) itu lumayan jauh. Naik taxi saja bisa 30-45 menit. Yah, mau tidak mau akhirnya naik taxi. Tapi pas saya naik taxi, salah satu dari mereka masuk juga. “Kenapa lo masuk juga?” kata saya tapi dalam Bahasa Inggris. Tapi kayanya dia ngga ngerti. Yasudahlah.

Sebelumnya saya sudah melihat-lihat beberapa hostel /hotel dekat Sule Paya. Dan pilihan jatuh pada “White House” yang katanya menyediakan breakfast buffet yang lumayan. Rencana awal saya check in, tidur, setelah itu bangun jam 12 untuk check out, kemudian keliling kota Yangon(yang menurut Lonely Planet cukup dalam waktu 2-3 jam saja). Tapi Bapak pemilik hostel cukup baik, dan menyarankan saya check out jam 4 atau setengah4, menyesuaikan dengan jadwal flight Airasia. Harga kamar $12 untuk double bad dengan fan.

Nampaknya sudah lama saya tidak tidur dengan benar. Saya bangun hanya untuk sarapan, dan tidur lagi sampai 2 siang. Langsung saya buru-buru keluar dan keliling-keliling sebentar.

Spoiler for sule paya
[FR] A Little Trip to Northern SouthEast Asia-Myanmar 17-20 Mei 2012


Rupanya di Yangon banyak juga orang muslim. Ada beberapa masjid yang saya jumpai, dan di jalan banyak yang menyapa “Assalamualaikum”. Suasananya agak mirip glodok versi lama, hanya saja jalan di Yangon lengang, dan jalus pedestriannya lebaar. Tidak sulit juga untuk mencari jalan, karena nama jalan hanya diberi nomor : 23th street, 24th street, dsb.
Puas keliling-keliling, saya kembali ke hotel, dan ternyata Bapak pemilik hotel itu sudah menunggu saya di depan. Dia bilang ada dua tamu lagi dengan jadwal penerbangan yang sama, dan dia sendiri yang akan mengantarkan ke Airport, tapi dengan tambahan fee 2500Ks perorang.

Ke airport memakan waktu sekitar 1jam. Di jalan, ia bercerita panjang lebar, betapa mereka (orang Myanmar) sangat membenci pemerintah, betapa mereka menginginkan Aung San Suu Kyi yang maju, dll. Pemerintah sering menerapkan peraturan dan kebijakan yang agak aneh, seperti misalnya, dulu paspor mereka hanya berlaku one way (kalau keluar Myanmar, tidak bisa kembali lagi), dan pemindahan Ibukota ke Nay Pyi Taw tanpa sepengetahuan mereka, dan menurut mereka tidak ada urgensinya.

Selama di Myanmar, saya menghabiskan uang sekitar $150. Pastikan untuk membawa uang dollar yang cukup atau berlebih, karena disana tidak ada ATM. Dan, kalau biasa tidak bisa lepas dari jaringan komunikasi, siapkan mental sedikit, karena susah mencari wi-fi disana, dan tidak ada provider telepon yang connect dengan jaringan provider kita.

#3


Quote:
Syarat Permohonan Visa Turis ke Kedutaan Myanmar :

- Mengisi form permohonan visa lengkap
- Surat sponsor dari perusahaan
- Pasfoto 4x6 2 lembar (background putih)
- Paspor
- Paspor masih berlaku, paling tidak 3 bulan
- Biaya 200 ribu
D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar